10 December, 2019

BEYOND YOUR BOUNDARIES


Tak lekang oleh waktu
Sepotong Cerita dari perhelatan GP100 edisi Tahun 2019


 Depok Trail Academy (Detrac) borong Podium 1 


Yang terjadi biar lah terjadi, tak perlu disesali, ini lah jalan kehidupan, yang terpenting adalah mempertahankan kesungguhan dan kekuatan mental saat keraguan menghampiri.
Situasi ini yang terjadi padaku dipersimpangan Kandang Badak menjuju Suryakenca di perhelatan GP100 kategory 50KM kemarin, minggu siang 8 Desember 2019, tepat pukul 11.00 WIB. Waktu yang tersisa dalah 4 jam untuk Cot off Time di titik Finish Cibodas, atau 12 kilometer lagi dengan elevation gain yang sisa 700 meter, atau lebih tepatnya 4 jam kurang 1 menit dibanding dengan garminku.
persimpangan Kandang Badak selepas puncak pangrango (loop kedua)

Kategori 50 K, merupakan jarak yang sudah masuk klasifikasi ultra taril karena melebihi jarak marathon dan batas waktu yang melebihi rentang matahari beredar atau 12 jam (kategori 50K GP100 COTnya 18 jam). Berlari ultra apalagi melewati lembah dan pegunungan memerlukan uji teknis dan mental yang mumpuni, segala teknik berlari plus kekuatan tubuh bagian atas perlu dilatih secara maksimal. Mental tidak berarti hanya keberanian yang diperlukan tetapi juga kesabaran, strategi mengatur nutrisi dan berpikir positif dengan menghargai  alam lokasi dimana kita berlari bahkan tempat tidur kita apabila tak dapat menahan rasa kantuk yang melanda. Semua itu dapat diwujudkan apabila kita berpikir dan berlatif secara radikal.

Rasa radikal ini kucuba wujudkan di GP 100 edisi 2019 ini, pergi pulang Depok Cibodas dengan menunggangi motor vespa sprint ku, kurang lebih 3 jam waktu yang dibutuhkan dengan rute jalan arteri melewati kota Bogor. Disamping itu, lagi lagi aku tidak dibantu dua bilah trekpol untuk melahap tanjakan gede pangrango yang mencapai total elevasi lima ribu ini, percaya diri dengan lutut dan otot paha, mengingat seminggu terakhir latihan strength di Gold Gym langgananku. Hal yang absen dari persiapanku, hanya tidak berlatih di rute sebenarnya, aku terakhir ke gunung Gede 5 bulan lalu saat persiapan MPC Trail, Malang.

Start untuk kategori 50km adalah yang ke tiga, pertama kategori 125 km  sudah sejak jumat sore kemudian yang kategori 100 Km sabtu dinihari flag off nya.  Sebanyak 24 pelari kategori yang aku ikuti secara bersamaan mennyusuri jalur berbatu tepat pukul 21.00 waktu Cibodas. Tantangan pertama adalah mendaki ke puncak Gunung Pangrango di ketinggian 3 ribu meter dari atas permukaan laut. Nafas mulai terasa satu dua, lampu dikepala menyinari jalur yang kadang tertutup kabut tipis, akhirnya jarak 6,5 km ke WS Kandang Badak dicapai dengan waktu 2 jam, not too bad. Episode selanjutnya, hingga turun dari pangrango belok kanan ke alun alun Suryakencana, sungguh menantang adrenalin karena meleati bibir kawah Gunung Gede sendirian. Angin berhembus kencang menderu deru dari arah kawah sehingga terasa badan ini bergoyang kencang. Dinginnya membuat jari-jari hampir beku, meskipun ditutupi handglove. Turun ke alun-alun Suryakencana dan balik lagi ke Cibodas, harus ditempuh maksimal 3 jam untuk mengejar psikological COT jam 6 pagi untuk loop pertama. AKhirnya dengan berlari kencang saat downhill, Cibodas dapat kucapai 3 menit menjelang  peserta katagori 25km start. Sesungguhnya, meskipun masih dibawah 9 jam untuk loop pertama, tetapi tetap jauh dari target ku yang 8 jam. Setiba di pos Cibodas, ganti pakaian, simpan headlamp karena berat, makan satu bungkus gu gel langung pamit ke 2 teman sesama kategori 50km yang belum memutuskan lanjut atau tidak.

Tepat pukul 06.07 WIB, aku mengawali loop kedua dengan semangat baru, aku yakin bisa menuntaskan tantangan 25km tersisa dengan waktu sub 9 jam. Kilometer pertama selepas Pos Pendakian Cibodas, tenaga terasa menurun dan lama kelamaan melemah, seperti kendaraan kehabisan solar. Upaya yang aku lakukan dengan menyerap nutrisi tambahan untuk mengembalikan tenagaku. Kali in kemampuan endurance ku diuji. Pola latihan yang tidak teratur, karena berbagai macam kesibukan kantor dan situasi yang tidak mendukung, membuat kondisi tubuh tidak maksimal saat loop kedua ini. Saat mendaki hingga ke puncak pangrango, dengan sisa sisa tenaga, aku merpapasan dengan calon podium 1 dan satu satunya pelari 125km, Fandi Acmad, berlari downhill dengan penuh semangat, karena loop ini adalah yang ke-5 alias yang terakhir menuju garis finish.
Selepas menerima gelang merah kedua di Mandalawangi, bersama dengan beberapa teman peserta  25km, kita downhill ke titik persimpangan di atas WS Kandang Badak. Jalur sempit dan terjal nan curam menuju Kandang Badak cukup padat dilintasi pendaki gunung yang menggunakan trek yang sama, sehingga sangat menyita waktu. Kucoba dengan sekuat tenaga untuk mencapai titik persimpangan sesuai dengan target yakni jam 10.45 WIB, sayangnya jam garminku berkata lain, ternyata 11 menit lewat dari jam 11 siang, inilah yang membuat patah semangat. Marshall GP100  di Kandang Badak, menyemangatiku, bahwa 4 jam masih bisa untuk menempuh jarak etape terakhir ini, dengan rincian 1,5 jam ke Alun2 Suryakencana dan 2,5 jam,  naik 300 meter, terus lanjut turun ke arah Cibodas sejauh 10 kilometer.

Tetapi apa mau dikata, malang tak dapat ditolak, keputusan sudah menjadi keputusan, setelah beristirahat, keputusan kembali ke Cibodas dengan berstatus DNF sudah menjadi ketetapan, tahun insya Allah aku akan kembali. Batal deh aku jadi finisher 50 KM urutan 8 (hanya 7 pelari yang berhasil finish under COT). 

Gunung tetaplah gunung, yang akan menanti kedatangan setiap insan  yang memujanya,, menikmati keindahan sekaligus meringis menahan sakit saat akar tajam dan batu menghujam adalah sesuatu yang dirindukan bagi kami, para pelari ultra. See you then guys, kita akan kembali dengan cerita baru, karena kehidupan ini berputar.



Jam 4 sore, setelah berganti pakaian dan solat jamak di Warung Ibu Cucu, motor Vespaku mengantarkan diriku kembali ke Depok, sebelum rasa kantuk yang melanda masuk semakin dalam.  Tak lupa membeli oleh oleh buah alpukat sebagai buah tangan buat keluargaku tercinta.

PR :
1.       Sangat dianjurkan menggunakan TREKPOLE terutama loop kedua
2.       Wajib berlatih dengan rute yang sama minimal dua minggu sebelum hari race
3.       Disarankan menggunakan nutrisi pemulih tenaga TAILWIND
4.       Tidur dan istirahat cukup, apabila bermotor, bermalam satu malam sebelumnya di cibodas

21 November, 2019

Bromo Tengger Semeru (BTS) Ultra 2019

percobaan kesekian kali kategori 170KM
dreams came true (not yet)
awal Nopember 2019


foto dulu sebelum dnf

selepas Pananjakan menjelang malam menuju turunan Jetak

rute muter muter edisi 2019

team DJPR (Acip dan Yudha cat. 70km)

WS Jarak Ijo

pinky will be back

enak kemping kayaknya

rutenya sebenarnya sudah asik banget

bule tua tapi strongg

bah dari tampangnya sepertinya kurang asupan cukup 

masih di WS yag adem sebelum hujan

om Boby repeater di BTS (dreams almost camo true) kayak aku hihi

menjelang start catagore 170k dan 102k jam 24.00 WIB

saltum.. jaketnya kebesaran.. (ngincer jaket Salomon)

ITB Ultra Marathon

200 KM yang Melelahkan

kucuran keringat terasa deras setelah 10km pertama sejak dari titik start di kantor pusat Bank BNI.

bersama race director Om Gatot

tim UI Runners

bersama sang ultra runner kawakan

foto dulu sebelum start jam 22.00 WIB

matahariny double

lewat KM 100 persimpangan Cibodas

arak arakan menjelang finish (cuma jadi penonton hikhik)

menunggu pengumungan podium 1 women 

tim UU Runners di garis finish

15 July, 2019

Mantra Challange 2019

MSC 116k
Prigen, Pasuruan
13-14 Juli 2019
Result Over COT 9 menit dari 35 Jam





Kembali lagi dari ketiga kalinya kepersetaan ku yang teman-teman malang adakan, boleh dibilang partisipasi ini adalah bentuk kepedulian dan kecintaanku pada olahraga yang menguras banyak energi ini. Meskipun dari kepersetaanku di race ini selalu DNF, namun tidak mengurangi minta untuk menjelajahi alam Arjuna-Welirang yang menyuguhkan track yang menantang ini. Edisi pertama 65km DNF, episode ke-2 yakni tahun 2017, kategori 75km juga DNF di WS Wonorejo dan tahun ini meskipun over COT, tetapi paling tidak telah menyelesaikan seluruh rute "brutal" lomba yang mengambil jarak 117km dengan elevasi 8.050 m.
Tentu banyak pelajaran yang diambil, kesabaran, ketabahan, percaya pada diri sendiri bahwa kamu "bisa" adalah esensi dari race yang berjalan lebih dari 30 jam dimana kesendirian saat malam gelap melanda, hawa dingin dan panas yg bercampur aduk saat hari berganti.


team DJP paket lengkap, minu Yudha 55km

ready to make a history

bersama race director, mas Ivan

briefing time

puncak gn Welirang

puncak Mahapena, rute yang bikin dengkul nempel kumis

check ini Wonorejo 1, 30 menit sebelum COT

just check ini di Wonorejo 2

check in Wonorejo 2, setelah nanjak melelahkan ke puncak Mahapena, pulang pergi 4.45 jam

check out dari Wonorejo 2, sisa 25 km to the finish line

oleh2 makadam



18 January, 2019

Napak Tilas para Sunan di Moeria

Muria Trail Run Edisi Perdana

Distance 50k
Elevation Gain 5.000 m
Date 12-13 Januari 2019
Peserta 65 orang

siap2 start pukul 24.00
Perjalanan dimulai dari Depok, sabtu dinihari dengan ditemani dua orang sahabat yang menjadi supir secara bergantian, Ipink dan Hendrik. Penumpang lainnya ibuku tercinta dan seorang ibu yang meski sudah hampir sepuh namun semangat jalan-jalan dan silaturahminya mirip dengan ibuku. Kali ini sedikit berbeda dengan event lainnya, yakni menggunakan mobil isuzu yang berarti harus menempuh perjalanan darat sekitar 9 jam (biasanya menggunakan airplane untuk menuju start line). Maklum penumpang yang ingin ikut serta ada 4 orang, demi efesiensi.

kuberdiri dihembus kabut pagi
Mumpung di kota Kudus, kami menyempatkan mampir sekaligus ziarah ke Mesjid Kudus yang memiliki bangungan menara yang terkenal dengan Menara Kudus. Masjid menara kudus didirikan oleh Sunan Kudus pada tahun 1549 Masehi atau tahun 956 Hijriyah. Konon bangunan ini menggunakan bahan batu Baitul Maqdis dari Palestina sebagai batu pertama. Masjid Menara Kudus terletak di di Desa Kauman, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus.


jalur Naga yang fonumenal
Seperti yang dijanjikan pantia pelaksana "Moeria Super Ultra Trail Run", para peserta akan melalui berbagai variasi jalurpendakian ke jalur perkebunan kopi, jalur setapak,  dari air terjun ke air terjun dan beberapa taman wisata alam. Para pelari juga akan dapat menyaksikan pekerja perkebunan kopi yang sedang melakukan kegiatan tersebut. Juga akan melihat aktivitas para peziarah makam sunan Muria. Kompleks rute yang seru  dan memberikan petualangan yang berbeda.

tanjakan menuju Natas Angin jalur Naga
Tepat pukul 24.00 flag off dimulai dari Wana Wisata Kajar, headlamp pun dipakai, rute pertama adalah melawati jalan raya menuju makam Sunan Muria dengan melewati anak tangga yang lumayan melelahkan sekitar 35 menit sebelum trek tanah yang licin menurun menuju lembah. Saat menurun inilah headlamp-ku mulai meredup, padahal batere baru loh dan sepertinya sudah harus pensiun, Kondisi ini membuatku tidak bisa berlari cepat, malah harus mencari teman pelari lain yang memiliki sinar lampu yang terang, terima kasih pada mbak Santih Gunawan.  Titik destinasi berikutnya adalah air terjun Padas awu, air terjun Padas Larang, wana wisata ternadi, tebing watu payung, wana wisata Plawangan, desa wisata rahtawu, desa wisata tempur dan air terjun monthel. Yang paling berkesan adalah saat menginjakkan kaki di puncak gunung Muria 1.700 mdpl atau CP  KM 20 saat matahari terbit, duh indahnya sulit digambarkan dengan kata-kata. Hembusan angin yang perlahan bercampur kabut tipis terasa hangat menghujam kalbu.  

selamat pagi runners
Rute alias track berkontur tanah, batu krikil, coran semen dan sedikit aspal, harus aku lahap untuk menuju garis finish dengan batas cut off time jam 18.00 hari minggu sore. Dengan diselingi hujan deras saat mendaki bukit terakhir dari desa Colo, membuat jalur semakin licin saat didaki maupun saat menemui turunan, terlebih rute tahap akhir ini merupakan rute yang sama dengan peserta kategori lain (30k). Peserta 30k yang aku temui, sepertinya banyak yang pertama kali mengikuti lomba lari di alam bebas (trail running), sehingga masih terlihat kikuk saat mendaki di jalur yang cukup terjal, terutama para peserta wanita.  
indahnya Pegunungan Muria dari ketinggian
Tanpa mengeluarkan effort yang melelahkan, meski tubuh ini kadang meminta tidur saat di rute, garis finish di Wana Wisata Kajar berhasil dicapai pukul 16.23 WIB atau sekitar 16 Jam 23 Menit. Not too bad lah dengan ranking 19. Cerita punya cerita, ternyata banyak peserta di kilometer awal mengalami kesalahan jalur atau tersesat sehingga banyak juga yang Do Not Finish alias DNF, seperti yang terjadi pada teman eks sekantor di Bali, yang harus urunan mobil bak terbuka untuk di evakuasi dari Colo.
Selain dari tidak jelasnya marka, penyelenggaraan kegiatan yang memang baru pertama kali diadakan ini juga dicederai dengan tidak jelasnya timing sheet panitia atau tidak tercatatnya waktu para finisher terutama peserta yang di atas 5 besar. Alasannya data hilang karena basah akibat hujan deras. Mudah-mudahan tahun depan akan lebih baik lagi, Kegiatan Moeria Trail Running  sudah memiliki pemandangan yang indah sepanjang jalur dan tempat tempat yang memiliki nilai sejarah, dimana peserta dapat berlari sambil berwisata dan berziarah.       

sunrise di puncak Muria

si putih yang mengantarkan ku
16 Jam 23 menit


3 km menuju finish line



tangga menuju Makam Sunan Muria
Menara Kudus

BEYOND YOUR BOUNDARIES

Tak lekang oleh waktu Sepotong Cerita dari perhelatan GP100 edisi Tahun 2019  Depok Trail Academy (Detrac) borong Podium 1  ...